Biaya Mahal, Kualitas Pas-pasan

Mendikbud Akui Kelemahan RSBI

Sumber: Jawa Pos, 2 Februari 2012

JAKARTA – Tingginya biaya pendidikan seharusnya diimbangi dengan kualitas yang mumpuni. Itu, tampaknya, belum terjadi pada rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) yang ada di tanah air.

Dalam rapat kerja (raker) dengan Komisi X DPR kemarin, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh mengakui, kualitas RSBI masih jauh dari mengesankan. Justru yang mencuat adalah stigma bahwa RSBI merupakan sekolah bertarif internasional alias mahal.

Meski begitu, Nuh menyatakan, program RSBI bakal jalan terus. ”Meski belum selesai, yang saya tangkap dari anggota dewan bukan untuk membubarkan RSBI. Tetapi, memperkuat sistem evaluasi RSBI,” ujarnya.

Mahalnya biaya sekolah RSBI bukan tanpa alasan. Salah satu penyebabnya, 63 persen anggaran kebutuhan RSBI ditanggung pemerintah. Jika ingin RSBI murah, pemerintah harus menggelontorkan subsidi lebih besar. Dengan demikian, beban yang ditanggung orang tua siswa bakal turun.

Saat ini kucuran subsidi pemerintah untuk setiap sekolah RSBI adalah Rp 300 juta per tahun. Total sekolah RSBI di semua jenjang adalah 1.305 unit. Berarti, subsidi yang dikeluarkan pemerintah Rp 391 miliar per tahun. Uang tersebut dipakai untuk biaya pemenuhan delapan standar minimal pendidikan. Mulai ruang kelas, bahan pembelajaran, hingga kualitas guru.

Masalahnya, lebih dari separo uang yang dikantongi sekolah RSBI habis untuk pemenuhan infrastruktur. Mulai pengadaan AC, keramik ruang kelas, pagar, sampai laptop. ”Sebagian besar untuk pemenuhan sarana-prasarana pendidikan. Sisanya baru untuk pembelajaran,” tuturnya.

Nuh mengatakan, hasil evaluasi di tingkat SD menunjukkan bahwa sekolah RSBI lebih bagus 12 persen jika dibandingkan dengan SD berlabel SSN (sekolah standar nasional). Untuk tingkat SMP, RSBI lebih bagus 15 persen daripada SMP SSN. Untuk jenjang SMA, RSBI unggul 19 persen di atas SMA SSN. ”Secara umum, memang RSBI lebih bagus. Namun, nilainya tidak besar,” ungkap mantan rektor ITS tersebut.

Sementara itu, anggota Komisi X Popong Otje Djundjunan mengatakan, penghapusan RSBI bisa berdampak baik. Tetapi, juga bisa berdampak negatif terhadap psikologis kepala sekolah, guru, siswa, hingga orang tua siswa. ”Yang lebih penting, evaluasi yang teliti. Saya sepakat usul RSBI baru distop sampai urusan ini benar-benar beres,” tandasnya.

Anggota komisi X lainnya, Dedi Gumelar, mengatakan bahwa praktik RSBI menempatkan anak pintar dididik oleh guru-guru pintar dengan fasilitas pendidikan jempolan. Sebaliknya, siswa tidak pandai hanya bisa sekolah dengan kualitas kelas dua. ”Jadi, yang pandai kian pandai. Yang tidak pandai makin goblok,” katanya. (wan/c10/ca)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: